Bangsa Indonesia Dibangun dengan Fondasi Bahasa

  • 23 November 2013
  • 06:44 WITA
Jakarta--Terbentuknya suatu negara dapat dibangun dengan berbagai macam fondasi. Ada negara yang dibangun dengan kesamaan agama seperti Iran atau atas dasar kesamaan ras seperti Afrika. Sementara, bangsa Indonesia dibangun dengan fondasi bahasa. Bagaimana awal mulanya?
 
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud Mahsun mengatakan, ada banyak benang pengikat yang bisa dijadikan untuk membentuk suatu negara atau bangsa seperti ras dan agama. Dia mengungkapkan, pada Kongres Bahasa Indonesia I di Kota Solo, Jawa Tengah tahun 1938 silam, telah dikukuhkan bahasa Indonesia tidak hanya sebagai alat komunikasi saja, tetapi jati diri bangsa Indonesia. 
 
"Bahasa merupakan ciri yang secara jelas mampu membedakan satu kelompok dengan kelompok lain," katanya pada sidang pleno Kongres Bahasa Indonesia (KBI) X, Senin (28/10/2013) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta. 
 
KBI X diselenggarakan mulai 28-31 Oktober 2013 diikuti dengan tema Penguatan Bahasa Indonesia di Dunia Internasional . Peserta sebanyak 1.168 orang terdiri atas pakar, praktisi, pemerhati, dosen, guru, mahasiswa, serta pencinta bahasa dan sastra, baik dari dalam maupun luar negeri. 
 
Hadir pada kongres Ketua Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Ketua Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei Darussalam, perwakilan Singapura, Timor Leste, Jepang, Rusia, Jerman, Belgia, Australia, dan Pakistan. 
 
Mahsun mengemukakan, awal mulanya bahasa yang dipilih adalah bahasa Melayu. Dia mengatakan, saat itu bahasa Melayu adalah bahasa minoritas dengan jumlah penutur hanya sebanyak 15 ribu orang. Jumlah ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan penutur bahasa Jawa yang mencapai 41 juta orang. "Pemilihan bahasa Melayu ini tentu memiliki alasan yang sangat kuat," katanya.
 
Mahsun melanjutkan, bahasa Melayu memiliki sebaran geografis di seluruh nusantara seperti di Jawa, Bali, NTT,Maluku, dan Papua. Penyebaran bahasa Melayu ini, kata dia, dipengaruhi oleh penyebaran agama Islam yang masuk ke Nusantara. "Itu sebabnya kita temukan kantong bahasa Melayu di seluruh nusantara," katanya.
 
Namun, lanjut Mahsun, meskipun berangkat dari substansi yang sama, bahasa Melayu yang diangkat menjadi bahasa Indonesia ini berbeda dengan bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia dan Brunei sebagai bahasa nasional. "Menteri bahasa menghilangi bahasa Melayu dan melahirkan bahasa Indonesia," katanya. (ASW).

Komentar

Drs. I Nyoman Supartha, M.Pd
NIP: 19661129 199512 1 003




Daftar Alumni
Apakah kamu setuju Full Day School dilaksanakan?